Pandemi covid-19 ini sudah berlangsung beberapa bulan sejak pertama kali muncul di akhir tahun 2019. Dunia mungkin tidak pernah menyangka akan kedatangannya. Begitupun orang-orang yang ada di dalamnya. Keadaan ini memaksa hampir seluruh manusia di dunia untuk waspada dan berhati-hati akan bahayanya dan memilih aktivitas yang lebih aman di rumah atau tidak beraktivitas di tempat-tempat umum.

Guru merupakan salah satu profesi yang tidak terlalu terdampak dari pendemi ini. Hal ini dibuktikan dengan tugas mengajar dan mendidik yang masih bisa dilaksanakan di rumah. Pembelajaran Daring (online) merupakan salah satu cara pembelajaran yang dapat diakses pada akhir-akhir ini. Namun hal ini tentunya tidak serta merta dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Ada yang menganggap pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang “mahal” karena harus menyiapkan instrumen pembelajarannya seperti Handphone, netbook atau sejenisnya. Hal ini ditambah lagi dengan kebutuhan yang besar akan pulsa atau kuota data yang besar sehingga harus mengeluarkan dana yang lebih besar.

Muh. Khaedar (Dosen PGSD Universitas Megarrezky)

 Pembelajaran Daring (online) sedianya menawarkan pengetahuan/ wawasan yang luas bagi para peserta didik. Namun dalam pelaksanaannya cara ini tentu masih belum bisa mencapai target pembelajaran yang seutuhnya, yakni pembelajaran yang menyentuh aspek-aspek dari tujuan pendidikan yakni kognitif, afektik, serta psikomotorik.

Pendidikan yang menyentuh aspek afektif (sikap) adalah salah satu dari tujuan mulia dari suatu pembelajaran. Namun dengan kondisi yang seperti ini membuat para tenaga pendidik (guru) harus mempunyai cara agar tetap bisa menanamkan nilai-nilai pendidikan moral serta dapat menilainya. Keadaan ini tentu memberi tantangan tersendiri bagi guru untuk bisa menerapkan pendidikan moral karena sejatinya sentuhan tangan seorang guru mempunyai makna yang besar bagi peserta didik. Baik berupa motivasi, arahan, dan selainnya.

Baca Juga :  BERBANTUAN PENYUSUNAN PENILAIAN BERBASIS KONSTEKS

Di berbagai daerah masih ada guru yang menerepkan pembelajaran yang langsung menyentuh kepada siswa, diantaranya dengan cara “door to door” ke rumah para siswa untuk memberi pelajaran ataupun tugas-tugas. Tentu keadaan ini sangat beresiko. Baik akan ketularan covid-19 maupun gangguan-gangguan lain. Namun hal ini dianggap salah satu jalan terbaik di balik keterbatasan-keterbatasan yang semisal siswa yang tidak punya media pembelajaran online atau karena jaringan yang tidak memungkinkan pada daerah tersebut.

Tentu kita hanya bisa berharap keadaan ini bisa segera berakhir dan kembali ke keadaan semua tanpa covid-19.  Sehingga pembelajaran dan pelaksanaan tugas guru bisa kembali normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *