Dr. Muhammad Akhir, M.Pd (Ketua IA Education Sulawesi Selatan)

Mulitiliterasi adalah peralihan paradigma literasi menjadi multiliterasi yang bukan hanya terbatas pada aktivitas membaca dan menulis namun dibutuhkan sikap memahami, mengaplikasi, menganalisis, menyintesis. Multiliterasi terkait dengan sosial, politik, budaya, ekonomi dalam era modernisasi dan globalisasi. Multiliterasi harus dapat mendorong seseorang untuk berpartisipasi secara produktif dalam aktivitas sosial [Baguley, Pullen dan Short, 2009].

The New London Group [1996] mulitilitarasi dilaksanakan melalui situasi praktis, jelas, dan kritis. Dalam kegiatan pembelajaran, multiliterasi harus membawa pengetahuan anak didik dalam situasi praktis, melalui penjelasan yang jelas, dan membagun kemampuan berpikir kritis melalui kasus-kasus dan realitas sosial di tengah masyarakat. Melalui kegiatan berpikir kritis maka setiap anak didik akan terlibat langsung dalam kehidupan sosial untuk melakukan trasformasi dalam dunia emperis.

Dewasa ini, salah satu permasalahan bangsa dalam dunia pendidikan adalah krisis karakter yang melanda pendidikan kita. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis karakter tersebut adalah dengan mengenalkan dan memahamkan pentingnya multilitarasi sosial dalam membentuk karakter diri anak didik.

Berdasarkan hasil analisis ESQ stidaknya terdapat tujuh krisis moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia antara lain adalah krisis kejujuran, krisis tanggung jawab, tidak berpikir jauh ke depan, krisis disiplin, krisis kebersamaan, krisis keadilan. Untuk membentuk karakter seseorang, maka perlu adanya integrasi yang utuh antara IQ (intelligence quotient), EQ (emotional quotient), dan SQ (spiritual quotient). Salah satu sarana pembentuk karakter adalah melalui pembelajaran multilitasi sosial. Pembelajaran multiliterasi sosial memberi banyak manfaat seperti, meningkatkan kemampuan berpikir kritis atas kondisi-kondisi sosial lingkungan seseorang, menumbuhkembangkan sikap positif sosial dalam kegiatan interkasi sosial dilingkungan dimana seseorang berada, memiliki rasa empati dan mengedepankan nurani gotong royong dilingkungannya, membentuk karakter jiwa sosial yang peka dan peduli terhadap sesama.

Baca Juga :  IRONI “MERDEKA BELAJAR”: PENDIDIKAN KERAKYATAN YANG DILUPAKAN

Model Pembelajaran multiliterasi sosial berbasis karakter sangat penting diterapkan dalam pembelajaran untuk memfasilitasi anak didik dalam memahami dan menganalisis berbagai problematika yang berhubungan dengan berbagai kehidupan sosial atau ilmu sosial. Sehinggga dalam pembelajaran multiliterasi bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep sosial anak didik melalui berbagai kegiatan literasi.. Berbagai probelamtika yang bersifat kontekstual atau kontemporer yang terjadi saat ini, kemudian dibingkai dalam sebuah cerita yang bermuatan fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Dalam kegiatan belajar mengajar dan dalam rangka membentuk karakter anak didik, maka konsep pembelajaran multiliterasi sosial diarahkan untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui beberapa tahapan, mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi atau pengamatan, tahap evaluasi dan tindak lanjut. Pada tahap perencanaan dosen memberikan scaffolding dengan cara memberikan bantuan kepada anak didik untuk mengerjakan aktivitas membaca dan menulis secara mandiri dan jujur serta bertanggungjawab. Tahap pelaksanaan memberikan contoh teks, dari contoh tersebut setiap anak didik belajar membuat teks. Pada tahap observasi atau pengamatan dalah dengan mengamati aktivitas anak didik dalam pembelajaran. Pada tahap evaluasi, dilaukan evaluasi terhadap hasil karya anak didik, agar hasil belajar dapat terukur secara autentik. Tahap tindak lanjut, hasil pada tahap evaluasi merupakan dasar pelaksanaan tindak lanjut agar tercipta pembelajaran yang berkarakter, efektif dan efisien.

“salah satu kegagalan sesorang adalah ketidakmampuannya melakukan adaptasi sosial dilingkungannya dengan baik, litarasi sosial yang baik dan ditopang dengan kepribadian yang baik pula akan melahirkan sikap empati sesama”

By Muhammad Akhir

Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar

3 thoughts on “PEMBELAJARAN MULTILITERASI SOSIAL SEBAGAI SARANA PEMBENTUK KARAKTER ANAK DIDIK”
  1. Membuka wawasan anan-anak menjadi mental berjiwa apatis dan peka terhadap lingkungan sosial yang Dijalaninya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *