Wahdania (Mahasiswa S1- PGSD Universitas Muhammadiyah Makassar)

Guru adalah tenaga pendidik profesional di bidangnya yang memiliki tugas utama dalam mendidik, mengajar, membimbing, memberi arahan, memberi pelatihan, memberi tanggapan, dan mengumpulkan informasi kepada peserta didik yang mengikuti pendidikannya, lalu memulai pelatihan formal di Sekolah Menengah. (Undang Undang No 14 Tahun 2005).

Menurut M. Uzer Usman, Guru adalah orang yang memiliki otoritas dan tugas dalam dunia pendidikan serta memenangkan pada lembaga pendidikan formal.

Menjadi guru adalah panggilan hati dalam menjalankan amanah. Bukan sekedar profesi. Hal ini karena guru merupakan suri tauladan masyarakat, sesuai dengan akronim Jawa untuk kata  guru, yaitu digugu/ diikuti dan ditiru,

Seorang Guru yang profesional adalah Ia yang mampu mendidik anak muridnya menjadi generasi yang mampu bersaing dan memiliki moral yang baik. keprofesionalitas seorang guru sangat penting bagi peserta didik. Karena guru memiliki tugas yang sangat berat dalam mendidik, mengarahkan dan memotifasi peserta didik untuk menjadi siswa yang pandai dan bermoral. Sebagaimana semboyan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara : “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ign Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” yang artinya di depan menjadi teladan, di tengah memberi semangat dan di belakang memberi dorongan.

Sementara menjadi guru di zaman milenial ini tidak mudah karena saat ini guru memiliki tantangan tersendiri, yang tidak hanya dituntut untuk mampu berdaptasi dengan perilaku dan sikap siswa yang dihadapinya, yaitu generasi Y atau milenial dan generasi Z, tapi juga terkait dengan terhadap pesatnya teknologi informasi yang berkembang saat ini.

Pertemuan antara generasi yang berbeda ini jika tidak disikapi dengan cermat, tentu akan menciptakan berbagai benturan. Guru banyak yang  memiliki kemampuan minim di bidang teknologi. Cara berpikirnya pun kerap dianggap kalah cepat dalam merespon laju perkembangan arus informasi dan teknologi di banding siswa yang akrab dengan perkembangan teknologi.

Baca Juga :  RUMUS BDHK DALAM PEMBELAJARAN

Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah ataupun guru harus  kreatif dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan tidak kaku. Siswa generasi milenial dan generasi X berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus duduk mulai pagi sampai siang di dalam kelas. Sebagai generasi yang akrab dengan dunia digital, mereka memiliki informasi dalam genggaman melalui gawai atau telepon. Artinya, kesempatan belajar tidak harus di dalam kelas. Mereka bisa mengakses informasi di mana saja dan kapan saja, yang dibutuhkan dari guru adalah pengawasan yang proporsional karena mereka tetap manusia yang membutuhkan feedback atau umpan balik, perhatian dan penghargaan dari guru dan orangtua.

Seorang guru juga tidak lagi berperan sebagai atasan yang memberi perintah yang wajib dituruti, karena siswa milenial memerlukan figur guru yang peduli, gemar berdiskusi dan memberikan bimbingan dalam komunikasi yang sejajar.

Di atas semua itu, kompetensi guru harus ditingkatkan terutama dalam penguasaan teknologi informasi sehingga pengetahuan guru semakin meningkat yang tentu saja akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan.

Guru di zaman milenial ini harus memiliki kompetensi dan memilih strategi yang tepat agar mampu diterima oleh generasi ini, beberapa diantaranya adalah pertama mengenali anak lebih dalam dan ajak anak mengenali dirinya. Mengajar generasi milenial tidak bisa diartikan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, Karena mereka sudah dapat mendapat informasi dan berbagai pengetahuan dari ponsel mereka masing-masing, lebih dari itu mengajar harus mampu memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar pengetahuan. Yaitu menemukan potensi mereka serta mengarahkannya agar mampu eksis di masa yang akan datang. Disinilah peran guru sangat dibutuhkan.

Kedua, melek teknologi. Perkembangan zaman yang tidak dapat dicegah ini menuntut para guru untuk dapat lebih kreatif terutama dalam menggunakan berbagai teknologi yang tersedia, terdapat banyak teknologi yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran. beberapa metode pembelajaran berbaris IT juga sudah dapat diterapkan dengan mudah, guru hanya perlu terus belajar dan membuka diri terhadap canggihnya teknologi informasi saat ini. Dengan mengenal teknologi, anak-anak tidak akan menyepelekan gurunya dengan menganggap gurunya gaptek.

Baca Juga :  SIKAP GURU TERHADAP PERUBAHAN KURIKULUM

Ketiga, menciptakan ekosistem menyenangkan, ekosistem yang menyenangkan dapat dibangun dengan cara memasuki dunia mereka, karenanya guru harus selalu update informasi. Hindari gaya otoriter, karena guru otoriter hanya akan dijauhi murid, sebaliknya sentuhlah anak dengan kasih sayang, ajaklah anak mengobrol, biarkan mereka menceritakan hobi mereka, jadilah pendengar yang baik untuk mereka, dan berilah arahan saat mereka melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan etika dan norma yang berlaku. Sampaikan kebaikan kepada mereka lewat pendekatan kasih sayang, dengan begitu anak akan merasa bahwa gurunya benar-benar aware terhadap mereka.

Keempat jadilah rule mode bagi mereka sehingga anak akan tetap memiliki pegangan dan contoh yang baik. Sebagai contoh kecil, ada seorang guru yang dengan santainya bermain gadget di kelas saat pelajaran berlangsung, maka otomatis anak akan berpikir bahwa bermain gadget di kelas sebagai hal yang wajar. Keesokan harinya anak-anak di kelas tersebut ramai menggunakan gadgetnya saat pelajaran berlangsung.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *