Emmawati Adam (Mahasiswa S1 PGSD FKIP Unismuh Makassar)

Bereksplorasi di ling kungan alam dapat mengasah potensi pengetahuan, memberikan pengalaman terbaik dan objek pembelajaran terbaik bagi peserta didik. Berinteraksi dengan lingkungan alam sekitar akan menimbulkan penghayatan baru dalam diri peserta didik tentang keterkaitan antar lingkungan. Penghayatan baru terhadap keterkaitan berbagai lingkungan, akan lebih mendalam dan meluas manakala didukung oleh praktik pendidikan lingkungan yang terencana dan berkesinambungan.

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia telah dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Depdiknas (1990:9) mengemukakan bahwa belajar dengan menggunakan lingkungan memungkinkan siswa menemukan hubungan yang sangat bermakna antara ide-ide abstrak dan penerapan praktis di dalam konteks dunia nyata, konsep dipahami melalui proses penemuan, pemberdayaan, dan hubungan.

Penerapan pendidikan belajar bersama alam sebagai reaksi terhadap sistem sekolah di Indonesia yang semakin lama semakin terasing dari lingkungan. Dengan adanya konsep “Belajar Bersama Alam”, diharapkan peserta didik bisa lebih menghayati apa yang dipelajarinya, menjadikan pembelajaran lebih variatif dan tidak membosankan. Anak juga tidak hanya tahu soal teori saja, tapi bisa mempraktikkannya di kehidupan sehari-hari. Alam, kehidupan, dan lingkungan dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, sehingga siswa siap menghadapi problem kehidupan real.

Belajar bersama alam merupakan sarana untuk menumbuh kembangkan karakter dan kecerdasan anak didik sebagai insan Indonesia cerdas. Insan Indonesia cerdas yang dimaksud adalah insan yang cerdas secara komprehensif, yang meliputi cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis.

Baca Juga :  Strategi dan Kesiapan Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Bagi Guru dan Sekolah

Dilansir Earth For Education, sekolah alam pertama di dunia digagas oleh seorang wanita bernama Ella Flatau dengan menciptakan ‘Walking Kindergarten’. Di luar negeri, sekolah berbasis alam sudah ada sejak tahun 1950 dan digagas pertama kali di Denmark. Di Indonesia, sekolah alam sendiri baru diperkenalkan tahun 1998 oleh Lendo Novo, seorang aktivis lingkungan sekaligus social entrepreneur.

Problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia saat ini adalah proses belajar mengajar yang diberikan di kelas, umumnya hanya mengemukakan konsep-konsep dalam suatu materi. Proses belajar mengajar yang banyak dilakukan pendidik adalah model pembelajaran ceramah dengan cara komunikasi satu arah (teaching directed). Lingkungan belajar yang terdiri dari lingkungan kelas dan luar kelas, sangat berperan dalam meningkatkan semangat belajar peserta didik. Lingkungan dalam kelas berupa tampilan kelas yang menarik, gambar yang memenuhi etika dan rasa humor yang mendidik, pengaturan perabot dan tata ruang kelas. Adapun lingkungan luar kelas berupa lingkungan alam yang dapat dijadikan sumber belajar. Lingkungan meliputi masyarakat disekeliling sekolah, Lingkungan fisik disekitar sekolah, bahan-bahan yang tersisa atau tidak dipakai, bahan-bahan bekas dan bila diolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber atau alat bantu dalam belajar, serta peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.

Pada dasarnya, pendekatan lingkungan merupakan strategi dan konsep pembelajaran yang cocok dan pas pada setiap proses pembelajaran. Salah satu metode alternatif yang saat ini sedang digemari dari selain kegiatan ceramah adalah Pendidikan Luar Ruang (Outbound Education), yang sarat dengan permainan yang menantang, mengandung nilai-nilai pendidikan, dan mendekatkan peserta didik dengan alam. Alam sebagai media belajar merupakan solusi ketika terjadinya kejenuhan terhadap metodologi pendidikan di dalam ruangan.

Baca Juga :  DIKLAT ONLINE PKB GURU " SOSIALISASI DAN WORKSHOP MODEL PEMBELAJARAN RADEC UNTUK MEMBEKALI KARAKTER DAN MULTILITERASI PADA SISWA SEKOLAH DASAR

Pembelajaran berbasis alam memberikan banyak manfaat seperti, memberikan keleluasaan bagi para pendidik untuk mengembangkan bentuk materi dan strategi penyampainnya dalam setiap kesempatan untuk menghindari kebosanan (boredem) pada diri peserta didik. Memberikan nuansa alami sesuai dengan potensi peserta didik (student’s potential) untuk menemukan konsep-konsep yang akan mereka peroleh melalui proses pembelajaran. Memberikan kesempatan bagi para peserta didik untuk memupuk sikap saling menghargai dan memahami dalam merealisasikan akhlaqul karimah serta bersosialisasi terhadap sesama. Serta mewujudkan keterampilan hidup (life skill) yang dialami dalam setiap proses pembelajaran, dengan memberikan kesempatan untuk melakukannya langsung.

“Belajarlah bersama alam untuk menjadi sebaik-baik ciptaan-Nya, menebar kebaikan dan kebermanfaatan. Belajarlah dari apa saja termasuk dari alam semesta untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik”.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *