ARMITHA (MAHASISWA S1 PGSD FKIP UNISMUH MAKASSAR)

Secara etimologis istilah literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” yang berarti orang yang belajar. Dalam hal ini literasi sangat berhubungan dengan proses membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis.

Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Dahulu literasi hanya dikenal ssebagai membaca dan menulis. Pada saat ini istilah literasi sudah digunakan dalam arti yang lebih luas. Istilah literasi memiliki banyak variasi seperti, Literasi Sains, Literasi, Komputer, Literasi Media, Literasi Sekolah, Literasi Visual, dan masih banyak lagi variasinya.

Menurut UNESCO “The United Nations Educational, Scietific and Cultural Organization”, Literasi ialah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya. UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Setiap waktu adalah kesempatan. Ketika Anda mendapatkan kesempatan untuk hidup yang lebih lama jangan disia-siakan dengan tidak belajar.

Kemampuan berliterasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas sebuah individu, keluarga, masyarakat. Itu karena sifatnya “multiple effect“ atau dapat merikan perubahan yang dampaknya sangat luas seperti membentuk kepribadian yang menyenangkan, menciptakan suasana damai dalam keluarga, memberantas kemiskinan yang sedang marak, menumbuhkan ekonomi masyarakat, dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan.

Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa yaitu membaca dan menulis. Lalu cara yang digunakan seseorang untuk mendapatkan kemampuan literasi itu melalaui Pendidikan.

Knowledge is power“. Kutipan yang terkenal dari Francis Bacon tersebut mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi manusia. Sumber pokok kekuatan manusia adalah pengetahuan. Karena manusia tanpa pengetahuan tidak mampu melakukan olah-cipta atau sama dengan kosong. Ketika manusia mempunyai pengetahuan maka mereka mampu bertahan diatas pundi-pundi kehidupan yang terus maju dan berkembang ini.

Baca Juga :  QUO VADIS PENDIDIKAN KITA

Proses olah-cipta terlaksana akibat adanya aktivitas yang dinamakan Pendidikan. Menurut KBBI, pendidikan adalah sebuah kegiatan perbaikan tata-laku dan pendewasaan manusia melalui pengetahuan. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani“. Kutipan dari bapak pendidikan nasional Indonesia yang berarti di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberikan daya kekuatan.

Kutipan tersebut memberi pengajaran bahwa pendidikan dan kemampuan literasi sangatlah penting dalam keberlangsungan hidup kita. Kemajuan suatu negara secara langsung tergantung pada pola pikir masyarakatnya contohnya tingkat melek huruf di negara tersebut. Produk dari aktivitas Literasi berupa tulisan yang merupakan sebuah warisan intelektual terbesar yang tidak akan kita temukan di zaman prasejarah. Tulisan merupakan bentuk rekaman sejarah yaang dapat diwariskan untuk generasi-generasi masa depan bangsa.

Dalam sejarah peradaban islam, kita dapat melihat bagaimana tradisi Literasi Islam melahirkan tulisan-tulisan para pemikir dan ulama islam klasik yang sudah berumur ratusan tahun dan sampai saat ini masih eksis dipelajari diberbagai lembaga pendidikan Islam.

Tulisan merupakan bukti dari jejak sejarah peradaban manusia yang berupa peristiwa, pengalaman, pengetahuan, pemikiran, dan ilmu pengetahuan yang ada di masa lampau. Tanpa tulisan dimasa lampau mungkin sekarang kita berada di zaman pra-sejarah. Untuk itu berterima kasihlah kepada sejarah. Sejarah yang tidak bisa diulang kembali. Kemudian kehidupan manusia modern di era globalisasi atau dimasa kita sekarang bisa dikatakan sebagai peradaban tulisan dan peradaban teks, kita bisa mendapatkan informasi dari mana saja, baik itu dari media cetak maupun media eletronik.

Baca Juga :  PEMBELAJARAN MULTILITERASI SOSIAL SEBAGAI SARANA PEMBENTUK KARAKTER ANAK DIDIK

Dalam dunia pendidikan khususnya tulisan mutlak diperlukan. Buku-buku pelajaran maupun buku bacaan merupakan sarana untuk belajar untuk para peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tanpa tulisan dan membaca, proses transformasi ilmu tidak akan bisa berjalan. Hal ini membuktikan betapa pentingnya menulis dan budaya membaca bagi masyarakat. Oleh karena itu, kita harus terus berupaya dan mendorong serta membimbing para generasi muda untuk membudayakan Literasi.

Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui pembiasaan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai merupakan pondasi bagi keberlangsungan Gerakan Literasi Sekolah yang dirintis oleh Satria Darma untuk dijadikan sebuah program nasional.

Ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari membaca, seperti mendapatkan informasi dan pengetahuan. Membaca juga membuat kita terhibur seperti halnya apabila membaca dongeng, novel, cerpen, dan lainnya. Dengan membaca kita mampu untuk memenuhi tuntutan intelektual, meningkatkan minat terhadap suatu bidang, dan mampu meningkatkan konsentrasi.

Akan tetapi, melihat hasil pada survei United Nations Educational, Scientifik and Cultural (UNESCO) pada tahun 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang mau membaca dengan serius(tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Melihat rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia tentu hal ini akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat biasa Indonesia kita bisa mulai dari sekolah. Kemudian ada banyak komunitas literasi di kalangan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang bisa menjadi patokan untuk mencapai tujuan.

Baca Juga :  WORKSHOP ONLINE PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR PADA MASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU

Berikut adalah prinsip yang perlu diterapkan dalam budaya literasi di Indonesia khususnya sekolah-sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, serta meningkatkan Mutu Pendidikan (1). Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa diprediksi. (2).Program literasi yang baik bersifat seimbang. (3). Program literasi berlangsung di semua area kurikulum. (4) Tidak ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis. (5) Diskusi dan startegi bahasa sangat penting. (6). Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah. (7). Membudayakan literasi dengan program 6M(Mengamati, Mencipta, Mengomunisasikan, Mengekspresikan, Membukukan, Memamerkan). (8). Membudayakan literasi dengan model BATU-BASAH (Baca, tulis baca sampaikan hasilnya). (9). Membudayakan literasi dengan pendekatan proses.

Penulis pernah mendengar ini dari seseorang waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, “Membaca buku itu jendela ilmu“ kalimat yang masih tertanam dalam benak sehingga sampai sekarang masih gemar membaca buku.

 

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *