Dunia pendidikan sangat merasakan bagaimana dampak dari wabah virus corona. Lebih kurang tiga bulan proses pendidikan dan pembelajaran telah mengalami banyak penyesuaian. Guru dan siswa, dosen dan mahasiswa yang sudah nyaman serta menikmati pembelajaran tatap muka di kelas, dipaksa harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sistem online (daring). Sebuah situasi dan kondisi yang berat terutama bagi guru dan dosen yang belum terbiasa atau bahkan “alergi” terhadap penggunaan teknologi dan infromasi sebagai alat pembelajaran.

 Kalau kita mengikuti update informasi dari pemerintah melalui juru bicara penanggulangan covid-19, masa pandemi virus corona diprediksi akan berlangsung lama karena belum ditemukan vaksin definitif dengan standar internasional untuk pengobatan virus corona. Oleh karena itu menurut pemerintah semua kehidupan harus segera melakukan adaptasi baru (new normal).

 Dunia pendidikan misalnya tengah merancang kegiatan adaptasi baru (new normal) melalui “rancangan kurikulum darurat”. Mengutip pernyataan Plt Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (Hamid Muhammad) (Radar Tasikmalaya 08/06), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mempertimbangkan untuk membentuk kurikulum khusus masa pandemi virus  corona (covid-19). Dalam prakteknya kurikulum akan disederhanakan. Penyerderahaan dilakukan pada aspek kompetensi dasar yang selama  ini cukup banyak dan berat. Hal itu akan berdampak pada jam belajar mengajar  yang dilakukan 2-3 jam di sekolah.

Wacana penerapan kurikulum darurat ini patut diapresiasi dan kaji secara sekasama. Apakah penerapannya sangat urgen dilakukan? Bagaimana dampak penerapan kurikulum tersebut terhadap kualitas pendidikan?, dan lain sebagainya.

Sejatinya kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum tidak hanya berbicara mengenai sekumpulan dari mata pelajaran saja, akan tetapi dalam ruang lingkup yang luas kurikulum menjelaskan mengenai aktivitas yang dilakukan peserta didik dan guru baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Baca Juga :  PROFIL GURU MASA DEPAN

Dalam proses pengembangan dan penerapan sebuah kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu aspek filosofis, psikologis, sosial-budaya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari sekian pertimbangan rencana penerapan kurikulum darurat yang harus menjadi perhatian serius adalah faktor psikologis peserta didik. Pertimbangan perkembangan peserta didik menjadi sangat penting dalam penerapan kurikulum. Penerapan kurikulum harus sesuai karakter peserta didik, baik dalam penyesuaian penetapan tujuan, materi dan bahan yang harus disampaikan, penggunaan model atau media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, maupun bentuk evaluasi apa yang harus digunakan.

Mengutip Sukirman & Asra (2017) pertimbangan psikologis dapat memberikan implikasi yaitu a) setiap peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhanya, b) program inti yaitu program pembelajaran yang bersifat umum yang wajib dipelajari oleh seluruh peserta didik, perlu juga disediakan pelajaran pilihan atau tambahan sesuai dengan minat anak, c) lembaga pendidikan hendaknya memberi bahan ajar yang baik kepada peserta didik yang bersifat kejuruan maupun akademik. Bagi peserta didik yang memiliki bakat di bidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya, dan d) kurikulum memuat tujuan-tujuan yang mengandung aspek pengetahuan, nilai/sikap, dan keterampilan yang menggambarkan pribadi yang utuh lahir dan batin.  Menilik alasan-alasan di atas, pertanyaan kemudian adalah urgenkah penerapan kurikulum darurat? Akankah kurikulum tersebut mampu menjawab implikasi-implikasi tersebut. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *