Penulis: Yoga Adi Pratama (Ketua IA Education JAWA BARAT)

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan Masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali. – Tan Malaka
Penunjukkan menteri milenial sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan membawa angin segar bagi dunia pendidikan. Belum genap dua bulan menjabat, Mas Menteri (sapaan akrabnya), sudah mengeluarkan gagasannya mengenai konsep “Merdeka Belajar”. Konsep tersebut menggebrak tatanan pendidikan lama yang cenderung monoton. Mau tidak mau gebrakan tersebut mengharuskan guru dan setiap insan pendidikan berubah.
Konsep “Merdeka Belajar” sebetulnya bukan hal yang baru, karena sudah sedari dulu para akademisi pendidikan, praktisi pendidikan, dan masyarakat sudah menyuarakan opininya terkait begitu kakunya kurikulum dan cara menjalankan kurikulumnya. Besaran materi yang begitu padat, waktu yang terbatas, ditambah dengan serangkaian ujian menjadikan siswa kita stress. Sehingga diperlukan pendidikan yang lebih humanis, berpihak pada siswa, dan memiliki suasana belajar bahagia dan membahagiakan.
Di lapangan konsep “Merdeka belajar” dimaknai hanya pada tataran praktisnya. Merdeka Belajar diidentifikasi menjadi empat isu penting, yakni 1) penggantian format ujian nasional (UN), 2) Pengembalian kewenangan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), 3) Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 1 lembar, dan 4) kuota jalur prestasi pada PPDB zonasi meningkat dari 15% ke 30%. Sementara secara filosofis seringkali dilupakan.
Belum genap setahun, Merdeka Belajar sudah diuji melalui bencana pandemi Covid-19. Pandemi ini mengharuskan setiap masyarakat, tidak terkecuali guru dan siswa, berada di rumah untuk sementara waktu demi memutus rantai penyebarannya. Sehingga merubah segala aspek konstelasi kehidupan, termasuk pendidikan. Dampaknya Merdeka Belajar harus dikemas ke dalam bentuk dalam jaringan (daring) dengan persiapan yang belum begitu matang. Sebuah hal yang ajaib mengingat jika dalam kondisi normal, digitalisasi pendidikan secara masif mungkin memerlukan 5-10 tahun untuk dilaksanakan.
Melalui semangat Merdeka Belajar, saya sebagai guru amatiran mencoba merancang berbagai macam inovasi dalam menyampaikan pembelajaran. Pembuatan bahan ajar yang kontekstual dengan Covid-19, penyusunan jadwal harian, daftar tugas, daftar proyek saya susun dengan semangat merdeka Belajar. Motivasi tinggi tersebut dimotori oleh teman seperjuangan guru yang mendadak ramai-ramai mempublikasikan inovasi pembelajarannya di akun media sosial. Sedikit “megalomania” sih, namun dampaknya luar biasa, bisa saling menginsprasi.
Seiring berjalannya waktu ditambah perpanjangan waktu KBM di rumah, saya benar-benar melupakan filosofi Merdeka Belajar yang sesungguhnya. Saya lebih banyak berkutat pada perancangan materi seperti membuat video berukuran besar yang harus siswa download. Mengejar materi kurikulum sebagai bekal ulangan harian, PTS dan PAS. Merancang materi Covid-19 sebagai materi kontekstual. Merancang tugas-tugas yang harus dikirm melalui whastapp. Sehingga dampaknya Tugas siswa pun menumpuk dan saya layaknya tukang kredit yang tiap hari tidak bosan-bosannya bawel menagih tugas.
Sampai beberapa waktu saya belum sadar, namun seiring banyak siswa yang meminta izin “Pak, saya beli kuota dulu” saya menjadi semakin sadar bahwa praktik pendidikan yang saya lakukan dengan berbagai inovasinya justru memberatkan siswa. Sampai puncaknya beberapa hari kemarin orang tua siswa mengirim pesan sebagai berikut:
“Ass pak maaf malam-malam ganggu, ini pak mau nyampein kalau hp ***** mau di jual dulu, bingung buat bayar kontrakan, jadi untuk sementara ***** nanyain tugas lewat temennya dulu pak, mohon pengertiannya pak soalnya bapaknya engga kerja, sedangkan rumah kontrakan harus di bayar. Insya Allah kalau udah ada rezekinya, ***** cepet bergabung lagi pak”
Untuk informasi, anak ini tergolong aktif dan bersemangat dalam belajar, namun yang jadi kendala rumahnya terkampau jauh dan tidak ada teman kelasnya yang dekat.
Membaca pesan singkat tersebut hati saya bak di sambar petir. Sedih sekaligus miris sekali ketika saya mengingat tugas yang diminta berupan video/foto dan lainnya yang memakan biaya kuota tidak sedikit. Disini saya mulai sadar bahwa praktik yang saya lakukan bukan “Merdeka Belajar” yang sesungguhnya. Saya hanya fokus kepada materi ajar saja, tidak peduli kondisi siswa bagaimana.
Kata kunci “Merdeka Belajar” adalah membahagiakan. Siapa yang bahagia? Tentu saja siswa, guru, dan orang tua. Ini yang saya lupa, karena pikir saya “Merdeka Belajar” dimaknai sebagai praktik pendidikan bebas dari kurikulum dan kaya akan inovasi. Dimana letak kebahagiannya jika masih memberatkan? Tentu saja siswa tidak bahagia, yang bahagia mungkin hanya si guru saja!
Sebetulnya konsep “Merdeka Belajar” yang sesungguhnya terlihat dari buah pemikiran Tan Malaka, si bapak Republik yang dilupakan, jauh sebelum era kemerdekaan yakni pada tahun 1926. Tan menyebutnya dengan pendidikan kerakyatan yang secara esensi merupakan jiwa dari “Merdeka Belajar”. Pendidikan menurut Tan adalah dasar untuk melepaskan bangsa dari keterbelakangan dan kebodohan serta belenggu imperialisme-kolonialisme. Artinya pendidikan haruslah berpihak kepada rakyat, khususnya rakyat kecil. Maka diharapkan melalui pendidikan akan tercipta manusia-manusia yang merdeka. Makna merdeka menurut Tan yaitu bebas dari rasa takut dan tidak menebar rasa takut. Prinsip ini lah yang seharusnya menjiwai “Merdeka Belajar”.
Secara singkat konsep pendidikan di sekolah Tan Malaka adalah memberikan siswa senjata yang cukup untuk mencari kehidupan, yakni melalui berhitung, membaca, menulis, ilmu bumi, bahasa asing, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah. Kemudian memberi hak siswa untuk menjalankan minat dan bakat (vereeniging). Terakhir menunjukkan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan kepada kaum proletar. Ini yang menarik karena Tan mengajak siswa untuk mengeluarkan perasaan dan pikiran tentang kaum proletar yang waktu itu dijadikan buruh dengan upah minim. Ketiga poin tadi merupakan esensi dari “Merdeka Belajar” yang erat kaitannya dengan pedagogik transformatif yaitu proses memanusiakan manusia untuk dapat membentuk masyarakat baru dan pengetahuan baru yang diciptakan oleh keterlibatan mereka sendiri.
Maka dari itu, penting kiranya kita sebagai guru memaknai ulang “Merdeka Belajar” sebagai konsep pendidikan humanis. Pendidikan yang lebih berpihak kepada rakyat, dan lebih membahagiakan. Terlebih dalam konteks Pandemi seperti ini, tidaklah elok kita memberatkan siswa dengan berbagai tuntutan, karena sejatinya pemerintah meliburkan sekolah bukan untuk uji coba pembelajaran jarak jauh, melainkan untuk memastikan anak-anak bangsa kita sehat dan tidak terpapar Covid-19.
Untuk siswaku yang tengah dalam masa kesulitan, bapak akan terus berupaya mencari jalan terbaik. Tetap tenang, tetap bahagia karena dibalik kesulitan akan ada kemudahan. Perjuanganmu sudah membuat bangga kami.
Berbicara tentangmu Tan, saya jadi ingat seseorang yang telah memberikan Testamen kepadamu yang isinya “Jika nanti terjadi sesuatu ……, saya harap saudara yang melanjutkan”. Ya, dialah Bung Karno. Bung Karno pernah mengatakan “Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di Gubuknya si Miskin”.

Baca Juga :  PEMBELAJARAN EFEKTIF DI MASA PANDEMIK COVID-19

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *