Abdul Wahid, S.Pd., M.Pd (Dosen Unismuh Makassar)

Mengekspresikan ide atau gagasan ke dalam bentuk bahasa tulis diakui sebagai keterampilan berbahasa yang sangat rumit. Bahkan, menurut Wijana (2006), sekaliber apapun tingkatan seorang penulis tentu akan merasakan betapa beratnya proses kreatif yang harus dilaluinya sebelum menghasilkan sebuah tulisan yang baik dan enak dibaca. Dalam proses menulis, seorang penulis melalui berbagai tahapan yang kadang-kadang tidak liner (atau bercampur aduk). Tahapan itu mulai dari pencarian ide, pengumpulan ide-ide yang relevan, pemilihan genre tulis, penyusunan kerangka karangan, penuangan ide ke dalam paragraf-paragraf, sampai pada benuk penyajian yang siap dinikmati oleh calon-calon pembaca (Wijana, 2006).

Dalam kegiatan menulis, penulis memerlukan keterampilan berbahasa dan berpikir. Karena itu, menulis sangat rumit untuk dikuasai. Namun, betapapun rumitnya, setiap maha(siswa) harus mahir berbahasa tulis. Menulis merupakan keterampilan mutlak yang harus dikuasai oleh maha(siswa) (Wijana, 2006). Ini agar dapat difungsikan dalam kehidupan mereka. Baik kehidupan di masa kini maupun mendatang. Terlebih-lebih, era globalisasi yang dimasuki oleh maha(siswa) saat ini merupakan era yang menuntut segala sesuatu serba efisien. Dengan kehidupan yang serba efisien ini, dunia mulai didominansi oleh budaya tulis, dibandingkan dengan budaya lisan (Wijana, 2006). Meskipun ini belum dibuktikan oleh hasil riset, tetapi maraknya penggunaan media komunikasi virtual, misalnya, dapat dijadikan sebagai tolak ukur.

Menulis adalah keterampilan komunikasi yang sangat dibutuhkan saati ini. Karena itu, guru/dosen memengang peranan penting untuk melatih mahasiswa untuk terampil dalam berkomunikasi tulis. Dengan kata lain, untuk mengasah kemahiran berbahasa tulis maha(siswa), para guru/dosen perlu mengevaluasi tulisan maha(siswa) mereka. Kita sering mendegar keluh kesah guru/dosen (tendik) bahwa tulisan yang diproduksi oleh maha(siswa) mereka tidak padu. Namun sayangnya, ketika tendik menilai tulisan maha(siswa), mereka tidak menunjukkan secara jelas pada bagian mana dari tulisannya yang tidak padu, dan bagaimana membuat tulisan maha(siswa) itu menjadi padu. Tanpa pengetahuan atau pemahaman tentang sumber-sumber kebahasaan yang terlibat dalam membangun tulisan yang padu, tendik tidak akan mungkin memberi bantuan nyata kepada maha(siswa).

Baca Juga :  BELAJAR MATEMATIKA DI MASA PANDEMIK COVID-19

Repetisi merupakan salah satu piranti kebahasaan yang diperlukan dalam membangun tulisan yang kohesif. Dengan kata lain, repitisi adalah salah satu cara untuk mempertahankan hubungan kohesif antarkalimat dalam sebuah tulisan. Hubungan itu dibentuk dengan mengulang sebagian kalimat.  Menurut Wijana (2006) repetisi adalah pemakaian bentuk secara berulang-ulang, baik secara utuh atau bersifat sebagaian, di dalam sebuah kalimat atau gugus kalimat pada suatu paragraf atau wacana. Lebih lanjut dijelaskan oleh Wijana bahwa di dalam tulisan, repetisi berfungsi untuk memberikan penekanan pada unsur yang diulang. Unsur yang diulang itu berarti unsur yang dipentingkan.

 

Dalam kegiatan tulis-menulis, penggunaan repetisi umumnya tidak sulit bagi seorang penulis (dalam hal ini maha(siswa)). Hanya saja, jika dilakukan secara berlebihan akan menimbulkan kebosanan. Selain itu, ini juga akan menyebabkan ganguan keapikan bentuk pada tulisan (Rani, dkk., 2013). Perhatikan contoh berikut ini: 1) Wahid adalah mahasiswa S-3 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang. Saat ini, Wahid dalam proses penyelesaian studi akhir. Oleh karena itu, Wahid disibukkan dengan penulisan laporan disertasi. 2) Kerajinan seni berupa batik tulis yang berasal dari yogyakarta kini mengalami kemunduran. Batik tulis dari yogyakarta memang cukup terkenal di luar negeri. Namun, akhir-akhir ini batik tulis mengalami kemunduran yang cukup signifikan (dikutip dari Wijana, 2006). Huruf yang dicetak tebal pada dua contoh ini adalah bentuk repetisi yang berlebihan.

 

Repetisi dalam jumlah yang berlebihan akan sangat mungkin membuat pembaca merasa bosan membaca tulisan penulis. Karena itu, diperlukan strategi untuk mengatasinya. Penggunaan peranti kebahasaan seperti penggantian (sinonimi, hiponimi, dan kolokasi), pelesapan, dan prafrasa dapat menjadi solusi untuk mengatasi over repetisi dalam tulisan (Wijana, 2006). Pada contoh (1) di atas, misalnya, dapat diatasi dengan menggunakan penggantian (subtitusi) sehingga tampak sebagai berikut ini: Wahid adalah mahasiswa S-3 (…) . Saat ini, Ia dalam (…) . Oleh karena itu, mantan ketua Himpunan BSI itu disibukkan (…). Dengan penggantian ini, contoh ini terlihat lebih bervariasi atau ‘tidak mati gaya’ (bandingkan dengan contoh sebelumnya).

Baca Juga :  WEBINAR IAE: Merdeka Belajar dan Mengajar "Pembelajaran Sains untuk Anak Selama di Rumah"

 

Selanjutnya, cara lain untuk mengatasi repetisi dalam tulisan adalah pelesapan. Pelesapan adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat dikembalikan atau diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Kridalaksana, 2001). Pelesapan merupakan penghilangan satuan lingual tertentu yang disebutkan sebelumnya. Pada contoh (2) di atas misalnya, dapat diatasi dengan strategi pelesapan sehingga tampak berikut ini: Kerajinan seni berupa batik tulis yang berasal dari (…). Batik tulis dari Yogyakarta (…). Namun, akhir-akhir ini Ø mengalami (…).

 

Repetisi memainkan peranan penting dalam tulisan. Akan tetapi, bila dilakukan secara berlebihan (over) akan menimbulkan kejenuhan bagi pembaca. Di samping itu, repetisi yang tidak jelas dalam menjalankan fungsinya dalam tulisan akan menonjolkan sisi kelemahan bagi Si penulis dalam memvariasikan sebuah tulisan (Wijana, 2006). Oleh sebab itu, menurut Wijana (2006), penulis perlu menggunakan peranti bahasa seperti penggantian, pelesapan, dan praprase untuk menghindari over repetisi dalam tulisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *