Irda Kasman (Mahasiswa S1 PGSD Unismuh Makassar)

Bank Dunia dalam laporannya di hadapan anggota PBB pada tahun 1990 menyatakan “ The case for human development is not only or even primarly an economic one. Les hunger, fewer child death, and better change of primary education are almost universally accepted as important ends in themselves”(Pembangunan manusia tidak hanya di utamakan pada aspek ekonomi, tapi yang lebih penting ialah mengutamakan aspek pendidikan secara universal bagi kepentingan diri orang miskin guna meningkatkan kehidupan social ekonominya).

Pendidikan sering di katakan sebagai proses belajar serta memperoleh berbagai pengetahuan di sekolah di dalam bentuk pendidikan formal. Tetapi sebenarnya proses pendidikan bukan hanya dimulai pada saat anak pertama kali bersekolah. Proses itu sudah dimulai ketika berada di rumah. Oleh karena itu, kita harus menyadari betapa pentingnya pendidikan. Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha untuk membantu peserta didik dalam usaha mengembangkan pengetahuan dan potensi kecerdasan atau pola tingkah laku yang berguna. Untuk mencapai keberhasilan pembangunan dalam pendidikan dituntut untuk menciptakan generasi muda yang lebih aktif, kreatif, berkualitas dan berprestasi. Pendidikan menurut UU No.20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 menyebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan merupakan suatu yang mutlak dan wajib yang harus di laksanakan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat yang berkualitas. Hampir semua ilmu, sikap, keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolah berkaitan langsung dengan siswa sebagai peserta didik dan guru sebagai tenaga pendidik. Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah dapat di ketahui dari prestasi siswa.

Baca Juga :  TANGGUNG JAWAB GURU DAN PENTINGNYA MENGENALI POTENSI ANAK SEJAK DINI

Imam Barnadib (2002:4), memandang pendidikan sebagai fenomena utama dalam kehidupan manusia di mana orang yang telah dewasa membantu pertumbuhan dan per- kembangan peserta didik untuk menjadi dewasa. Pendidikan dalam arti luas semacam itu, telah ada sejak manusia ada. Sejak awal mula kehidupannya, manusia sudah melakukan tindakan mendidik atas dasar pengalaman, bukan berdasarkan teori bagaimana sebaik- nya mendidik. Dalam hal ini, pendidikan menunjuk pada pendidikan pada umumnya,yaitu pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat umum. Sedangkan menurut Driyarkara (2007: 413), intisari dari pendidikan ialah upaya memanusiakan manusia muda. Driyarkara menyebutnya sebagai proses hominisasi dan humanisasi. Hominisasi dan humanisasi adalah pengangkatan manusia muda sampai sedemikian tingginya ehingga ia bisa menjalankan hidupnya sebagai manusia dan membudayakan diri. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani, tulah yang menjelma dalam semua perbuatan mendidik, yang bentuk dan wujudnya beragam.

Menurut Slameto (2003: 54) “Keberhasilan belajar di pengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern”. Faktor dari dalam diri siswa di antaranya keaktifan siswa, kecerdasan dan proses belajar siswa. Faktor ekstern diantaranya faktor guru mengajar dan faktor lingkungan belajar yang meliputi lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat dimana siswa bersosialisasi.  Lingkungan belajar siswa menjadi salah satu faktor penting dimana siswa tumbuh dan berkembang di lingkungan tersebut. Pendidikan sebagai  usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu potensi dan kemampuan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga orang tua, sekolah dan masyarakat.

Tolok ukur menurut Dewey bahwa pendidikan untuk menilai apakah pengalaman bersifat mendidik atau tidak dan apakah ketika pengalaman itu menjamin terjadinya interaksi antara realitas subyektif/internal dalam diri subjek didik dan realitas obyektif/eksternal yang menjadi kondisi nyata bagi subyek didik untuk hidup di tengah masyarakat dan zamannya. Pendidikan yang baik dan berbasiskan pengalaman memang perlu memperhatikan minat, bakat, keinginan, rasa ingin tahu, inisiatif dan kebebasan individu subyek didiknya sebagai realitas subyek/internal,tetapi tidak berarti lalu dapat mengabaikan tuntutan berdasarkan kondisi obyektif/eksternal yang menurut penilaian para pendidik sebagai orang dewasa layak diberikan. Anak-anak, menurut Dewey, seharusnya secara bertahap berubah dari belajar berdasarkan pengalaman langsung ke metode belajar yang seolah mengalami sendiri/dialami orang lain.

Baca Juga :  LITERASI KRITIS: MENGUAK MOTIF TERSELUBUNG DIBALIK TEKS

Pendidik haruslah senantiasa siap sedia untuk mengubah metode dan kebijakan perencanaan pembelajarannya, seiring dengan perkembangan zaman yang erat terkait dengan kemajuan sains dan teknologi serta perubahan lingkungan hidup tempat pembelajaran dilaksanakan. Pedagogik kritis pada hakekatnya melihat proses pendidikan bukan sebagai suatu proses yang netral, tetapi berkaitan dengan struktur kekuasaan. Sedangkan Pedagogik Libertian, bertolak dari pandangan pendidikan adalah proses penyadaran akan kebebasan individu dalam berefleksi dan bertindak. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu proses penggalian dan pengolahan pengalaman  secara terus-menerus. Inti pendidikan adalah usaha untuk terus-menerus menyusun kembali (reconstruction) dan menata ulang (reorganization) pengalaman hidup subjek didik.

Pendidikan mampu memberikan informasi serta pemahaman akan seluruh ilmu pengetahuan yang ada di setiap orang. Terlebih lagi zaman selalu berubah. Itu tandanya generasi muda mau tidak mau harus terus belajar dan mendapatkan pendidikan yang baik. Jangan sampai generasi muda menjadi ketinggalan zaman karena mengabaikan pendidikan, bisa menciptakan generasi penerus bangsa yang ahli di berbagai bidang. Hal ini sangat berhubungan dengan tersedianya berbagai jenjang pendidikan serta penjurusan yang ada. Jika hal ini dapat tercipta, maka pendidikan akan dapat melahirkan banyak generasi muda yang unggul, pendidikan dapat memperdalam suatu disiplin ilmu yang disukainya. Hal ini dapat di rasakan jika orang tersebut terjun langsung ke dalam masyarakat. Orang tersebut akan mengabdikan dirinya kepada masyarakat dan berusaha untuk memecahkan problema yang terjadi di dalamnya.

Harus diakui jika pendidikan menjadi salah satu cara untuk mendapatkan pekerjaan yang di harapkan. Jika dilihat saat ini, mencari pekerjaan itu tidaklah mudah. Banyak sekali pesaing yang kompetitif. Tentu saja perusahaan akan menilai pertama kali calon pekerjanya melalui jenjang pendidikannya. Dengan semakin tingginya jenjang pendidikan yang dimiliki, kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan yang diinginkan pun semakin besar. Oleh sebab itu akan sangat membanggakan jika negara kita memiliki generasi muda yang cerdas. Hal itu bisa terjadi melalui pendidikan. Tak hanya cerdas dari sisi akademik, pendidikan pun dapat membuat generasi muda mempunyai nilai moral serta integritas yang tinggi.  Bila hal itu terjadi, tidak mengherankan jika negara ini dapat menjadi negara yang besar dan hebat. Sebenarnya pendidikan adalah investasi yang sangat baik bagi generasi muda. Pendidikan adalah hal yang sangat baik untuk semua generasi. Itulah mengapa pendidikan sangatlah penting untuk dirasakan semua orang demi keutuhan Bangsa dan Negara.

Baca Juga :  STRATEGI PEMBELAJARAN ONLINE HANYA AKAN MENJANGKAU ANAK-ANAK DARI KELUARGA KAYA

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *