Rian Aprilianengsi (Mahasiswa S1 PGSD Unismuh Makassar)

Bobbi De Porter dan Mike Hernacki dalam bukunya “Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan” menyatakan bahwa gaya belajar adalah kata kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, di sekolah, dan dalam situasi-situasi antar pribadi. Ketika anda menyadari bagaimana anda dan orang lain menyerap dan mengolah informasi, anda dapat menjadikan belajar dan berkomunikasi lebih mudah dengan gaya belajar anda sendiri.

Gaya belajar merupakan salah satu yang dimiliki oleh setiap individu dalam menyerap, mengatur, dan mengolah informasi yang diterima. Gaya belajar yang sesuai adalah kunci keberhasilan siswa dalam belajar. Penggunaan gaya belajar yang dibatasi hanya dalam satu gaya, terutama yang bersifat verbal atau auditorial tentunya dapat menyebabkan banyak perbedaan dalam menyerap informasi. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar, siswa harus dibantu dan diarahkan untuk mengenali gaya belajar yang sesuai dengan dirinya sendiri agar hasil belajar bisa maksimal (Bire, dkk, 2014:168).

Seorang guru perlu mengenali gaya belajar peserta didiknya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pemilihan metode pembelajaran yang bisa digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat menjadi faktor penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pada dasarnya ketercapaian tujuan pembelajaran di kelas membutuhkan relevansi antara pemahaman peserta didik melalui metode ajar guru.

Terdapat tiga modalitas (type) dalam gaya belajar yaitu visual, auditorial, dan kinestetik (Deporter dan Hernacki, 2000) dalam Bire, dkk (2014:169). Ketiga modalitas ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda, itulah sebabnya terdapat tiga penggolongan yang berbeda pula. Gaya belajar visual merupakan gaya belajar yang mengandalkan fungsi indra penglihatan (mata). Orang yang memiliki gaya belajar visual akan lebih mudah memahami pembelajaran dengan cara melihat dan mengamati sesuatu melalui media gambar, video ataupun pengolahan data dengan diagram atau tabel.

Baca Juga :  MEMBACA SASTRA: SARANA PENGEMBANGAN KECAKAPAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK

Gaya belajar auditorial berhubungan dengan indera pendengaran. Peserta didik yang memiliki gaya belajar auditorial sangat sensitif terhadap suara. Apapun yang mereka dengarkan akan lebih mudah diserap dan diingat ketimbang harus membaca dan melihat pembicara. Dalam proses pembelajaran gaya belajar auditorial ini sangat terbantu dengan media rekaman suara, lagu, ataupun penjelasan secara langsung. Orang bergaya auditorial sangat suka berbicara di depan umum, senang diskusi kelompok dan suka menjelaskan segala sesuatunya dengan detail.

Selanjutnya adalah gaya belajar kinestetik yaitu gaya belajar yang mengutamakan fungsi organ gerak pada tubuh. Gaya belajar kinestetik memandang proses belajar akan lebih menyenangkan dan bermakna melalui gerak fisik seperti berjalan dan aktivitas fisik lainnya. Orang bergaya kinestetik sulit memahami materi yang dibaca ataupun dijelaskan karena mereka cenderung memahami sesuatu dengan mencobanya secara langsung.

Pemahaman guru terhadap ketiga gaya belajar ini berguna dalam pemilihan metode pembelajaran. Dengan metode belajar yang tepat maka situasi kelas akan lebih kondusif dan peserta didik dapat memahami materi yang di bahas. Ada berbagai macam metode yang bisa digunakan sesuai dengan gaya belajar tersebut. Penggunaannya juga dapat divariasikan seperti metode ceramah, metode demonstrasi, metode diskusi, mind mapping, dan sebagainya.

Dalam mendesain suatu pembelajaran guru harus piawai menggunakan metode didukung media yang menarik. Untuk memfasilitasi gaya belajar peserta didik yang beragam maka perlu digunakan metode pembelajaran yang variatif. Metode ceramah akan membantu bagi orang yang bergaya auditori. Walaupun metodenya klasik namun melalui pemaparan atau penjelasan dari guru peserta didik bergaya auditori akan lebih cepat mengingat dan memahami materi ajar.

Untuk peserta didik bergaya visual bisa dengan menggunakan metode mind mapping. Mind mapping ini berisi sebuah pemecahan masalah melalui  gambar. Selain menguji daya ingat metode ini juga mengasah kreativitas peserta didik agar mind mapping terlihat lebih menarik. Selanjutnya, bagi peserta didik bergaya kinestetik metode  demonstrasi akan membantu mereka belajar. Gaya belajar kinestetik lebih mudah memahami konsep  ketika mereka melakukannya secara langsung ataupun mengoperasikan suatu alat atau benda yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Dalam pengimplementasiannya penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi mungkin akan menyulitkan guru namun yang terpenting adalah apa yang telah kita ajarkan itu mampu diterima oleh peserta didik, dengan mengingat mereka akan memahami, dengan memahami mereka akan memaknai, lalu setelah memaknai mereka mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  NEW NORMAL: TUMBUHKAN KARAKTER KE-INDONESIA-AN

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *