Tahun 2020 menjadi tahun yang sangat tidak terduga oleh semua orang di dunia ini, virus mematikan corona atau juga dikenal dengan nama lain covid-19 muncul pertama kali di kota Wuhan China. Kemudian menyebar ke seluruh Negara tidak terkecuali Indonesia hingga ditetapkan sebagai sebuah pandemi. Dimana menyebabkan perubahan yang sangat luar biasa disegala bidang termasuk pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia menjadi sangat berubah, istilah PJJ (pembelajaran jarak jauh) menjadi tren untuk alternatif solusi pembelajaran selama pandemi ini. Namun, bukan berarti semuanya bisa berjalan dengan tanpa masalah, banyak sekali permasalahan yang muncul selama pembelajaran jarak jauh ini.

Seperti curhatan Pak Irsyad salah seorang guru sekolah dasar di daerah Sumedang tepatnya di dusun Maleber desa Wado kecamatan Wado, selama pembelajaran jarak jauh ini banyak sekali mengalami permasalahan. “selama pembelajaran jarak jauh ini merasa belum berjalan maksimal, masih banyak kendala, saya guru kelas 6 dengan jumlah 14 orang siswa, sekolah kami sangat jauh dari kota, buku guru dan buku siswapun kami belum punya, hingga saya harus menyusun sendiri materi dan disesuaikan dengan tujuan dari kurikulum” ucap Pak Irsyad saat diwawancara (01/06). Pembelajaran dengan menggunakan internet sudah dicoba oleh Pak Irsyad namun tidak semua siswa memiliki fasilitas untuk mengakses internet, mulai dari tidak punya gadget hingga kuotanya, sehingga menjadi beban Pak Irsyad kepada siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran.

Kemudian muncul program pemerintah yang memberikan materi pembelajaran kepada siswa melalui saluran televisi nasional TVRI yang awalnya Pak Irsyad merasa bisa membantunya dalam menyampaikan materi pelajaran, namun nyatanya Pak Irsyad merasa materi yang diberikan belum sesuai dengan kondisi siswanya, tidak sedikit siswa yang mengeluhkan materinya terlalu sulit, dan jam tayangnya yang berubah-ubah.

Baca Juga :  MENGENALI FAKTOR X PENGHAMBAT SESEORANG JADI PENULIS

Seiring berjalannya waktu Pak Iryad mencari alternatif solusi bagaimana materi tetap bisa tersampaikan pada masa pendemi ini kepada seluruh siswa, door to door atau dari pintu ke pintu menjadi solusi yang digunakan, sehingga Pak Irsyad mengunjungi rumah siswa satu persatu untuk memberikan pembelajaran, meskipun sangat melelahkan tapi tetap dilakukan karena beban materi yang harus disampaikan. Pak Irsyad memulai dengan menyusun materi yang sesuai dengan kondisi siswanya untuk satu minggu, menghindari kontak langsung dengan siswa dan keluarganya terlalu sering, kemudian Pak Irsyad datang kembali untuk mengevaluasi hasil pekerjaaan siswa dalam satu minggu tersebut, tindakan Pak Irsyad sangat disambut baik oleh orang tua siswa.

Kondisi AKB (adaptasi kebiasaan baru) atau new normal yang mulai diterapkan di Sumedang pada tanggal 30 Mei 2020, belum memberikan dampak yang signifikan terhadap bidang pendidikan di Sumedang, meskipun sudah ada edaran surat No.800/3175/Disdik yang berupa himbauan dari Dinas Pendidikan terkait protokol saat masa AKB apabila pembelajaran dikelas mulai dilakukan juga pengumuman tanggal tanggal penting di lingkungan dinas pendidikan kota Sumedang, termasuk tanggal ajaran baru yang mulai tanggal 13 Juli 2020. Itupun bukan berarti pembelajaran bisa kembali normal, ada kemungkinan juga masih menggunakan pembelajaran jarak jauh.

Harapan Pak Irsyad apabila pembelajaran baru dimulai dan masih menggunakan pembelajaran jarak jauh, apabila memungkinkan pemerintah dapat memfasilitasi siswa dan juga guru terkait perangkat yang digunakan. Penggunaan televisi lokal  juga bisa menjadi solusi karena dengan penggunaan televisi lokal lebih bisa menyesuaikan kondisi di daerah masing-masing. Selain itu juga adanya pelatihan kepada guru-guru secara daring dalam memaksimalkan pembelajaran jarak jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *